Sejarah & Profil Perkembangan
Belum ada catatan narasi sejarah khusus untuk Santo Arnoldus Yansen - Enopapi. Informasi pelayanan stasi diperbarui secara berkala oleh pengurus wilayah dan paroki.
Wilayah Teritorial & Lokasi
Pelindung: - Tipe lama: Kapela Koordinat: -, - Sejarah: Kapela Ekanaek bersama kapela Boentuka dan Fatumetan membentuk satu segi tiga. Letaknya di sudut Molo Selatan dan mollo Barat. Masa doeloe tempat ini termasuk onderafdeling Molo yang kemudian berubah nama menjadi swapraja. Penduduk yang berdiam sekitar kapela dipinggiran kali Noe Leke ini, punya hubungan keluarga dengan umat Boentuka dan Fatumetan. Sama-sama berasal dari Oekusi. Pad tahun 1955 tersiar berita bahwa orang-orang yang mendiami daerah ini ingin masuk katolik. Beberapa pemuda meminang gadis-gadis Boentuka lalu masuk agama katolik. Peristiwa G.30.S. menggoncangkan penduduk di daerah tertutup yang dikelilingi sungai ini. Orangorang kafir yang kebingungan, simpang siur mencari perlindungan pada agama-agama. Tanggal 12-3-1966 Markus Kolo dari Boentuka pergi ke EKanaek untuk mendekati orang-orang yang kebingungan karena terus-menerus dipaksa untuk memilih salah satu agama. Ternyata banyak orang suka dan berkeinginan masuk katolik. Berita heboh ini didengar oleh Kepala Desa Fatukoko. Hari berikutnya H.H. Manbait, selaku Kepala Pemerintahan Desa, menulis sebuah surat yang ditujukan kepada Temukun Kuatnana dan orang tua-tua, sebagai berikut : “Dh! Ditegaskan surat ini kepada Sdr. Temukun Kuatnana, Y Oematan dan orang tua-tuanya, kami tidak memperkenankan untuk agama katolik diperkembangkan di wilayah Fatukoko, karena wilayah ini wilayah protestan. Itu nanti hari kemudian wilayah ini akan rusak dan terlalu kacau, karena kita bertuankan dua tuan. Masuk saja di agama yang ada memang dalam wilayahmu Profil Kapela itu, yaitu agama protestan. Sekian. Salam hormat: Kep. Desa Fatukoko. ………………………….. Tentu orang tua-tua yang tinggal dalam lingkungan feodalistis ini terkejut. Bawahan tidak boleh berpikir lain dari atasannya. Semua harus tunduk kepada apa yang sudah diatur dari atas. Pada waktu yang hampir bersamaan “dewi Fama” melayang-layang menyebarkan desas-desus yang membuat penasaran, yaitu bahwa 50 pemuda menjaga kampung Ekanaek dan guru agama tidak boleh datang lagi. Tanggal 22- 3-1966 Kepala Pemerintahan Desa Fatukoko mengeluarkan surat kedua yang dialamatkan kepada Pemimpin Agama Katolik di Ekanaek. Tulisan ini diawali dengan sebuah surat ejaan lama bahasa Indonesia dari Kepala Desa Fatukoko dan Pemimpin Jemaat Kristen Protestan Fatukoko yang dengan tembusan kepada P. Vincent Lechovich, SVD dan bpk. J. Thius. Isi suratnya demikian : SALINAN Fatukoko 22.3.66 Surat No.5 Pokok : Ketegasan Kepada Jth! Sdr. Pemimpin Agama R.K. Di Ekanaek Dh! Ditegaskan kepada sdr. Pemimpin Agama R.K. di Ekanaek, seterima surat ini, minta pekerdjaan jg sdr selundupkan masuk ditempat itu kerena tempat itu wilayah Fatukoko, jaitu wilayah Protestan. Sekali lagi. Kami minta sdr lepaskan pekerdjaan jg sdr selundupkan masuk di tempat Ekanaek itu karena tempat itu wilayah Fatukoko, jaitu wilayah Protestan. Sekian. Salam hormat. Kep. Desa Fatukoko tanda tangan Gr.Djumat Fatukoko tanda tangan H.H. Mambait. L. Tein Salinan sembunji dengan aslinja Soe 24.3.1966 V.Lechovic J.Thius Pastor guru Profil Kapela Pemuda Soe yang tergabung dalam organisasi “Pemuda Katolik” menilai pendirian Kepala Desa bertentangan dengan UUD ’45 yang dengan tegas menjamin kebebasan beragama bagi setiap warga Negara Indonesia. Pemuda katolik yang juga punya andil dalam pembasmian PKI di wilayah TTS, pada hari Minggu pagi berangkat menuju Ekanaek. 30 pemuda sukarelawan itu menghantar guru agama ke tempat ibadat. Tern <truncated 26399 bytes> NOTE: The output was truncated because it was too long. Use a more targeted query or a smaller range to get the information you need.